Tiga Partai Baru Curah Gagasan dalam Dialog Aliansi Nusantara

Tiga Partai Baru Curah Gagasan dalam Dialog Aliansi Nusantara

238
0
BERBAGI
Panelis, Perwakilan dari Partai Garuda, PSI, Perindo dan DPP Aliansi Nusantara berfoto bersama setelah dialog selesai digelar. (lk20/ms)

JAKARTA – Aliansi Nusantara menggelar Serial Dialog dengan tema “Siapa Berhak Kursi di Senayan” pada Jumat siang, (13/4/2018), bertempat di ruang GBHN Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Kegiatan tersebut sebagai bagian dari ajang silaturahmi partai kepada rakyat. Aliansi Nusantara memberikan kesempatan bagi partai baru untuk curah gagasan mengenai persoalan yang sering dijumpai oleh masyarakat luas.

“Acara dialog kali ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana partai baru mampu memahami dan menjabarkan permasalahan yang terjadi di daerah, seperti: nasib tenaga honorer, maraknya miras oplosan, begal motor hingga perilaku korupsi. Serta diharapkan dapat memberikan solusi jika nanti terpilih menjadi wakil rakyat di Senayan,” ungkap Budiman, Ketua Umum Aliansi Nusantara.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh 3 partai baru yang menjadi peserta Pemilu 2019, yakni Partai Garuda, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Perindo. Selain itu, dialog tersebut juga menghadirkan Yudhie Haryono, Ph.D (akademisi), Prof. Siti Zuhro (peneliti LIPI) dan Nurmawati Dewi Bantilan (anggota DPD RI) sebagai panelis.

Dialog tersebut memang dikhususkan untuk mengundang partai baru, termasuk Partai Berkarya. Namun, hingga selesai acara, perwakilan Partai Berkarya tidak hadir di ruangan. “Sebenarnya ini dapat menjadi ajang bagi partai baru untuk memperkenalkan gagasannya mengenai perbaikan kondisi bangsa di tengah berbagai masalah yang ada. Kami berharap nantinya masyarakat akan tercerahkan dan mampu menentukan pilihan mereka,” papar Sekjen Aliansi Nusantara, Zaenal Abidin.

Sebagai panelis, Siti Zuhro mengatakan bahwa secara umum partai baru telah mampu memahami masalah dengan baik, namun perlu diperkuat lagi dengan solusi yang lebih aplikatif. “Saya melihat masih banyak yang normatif dalam gagasannya. Wajar karena mungkin masih partai baru dan perlu banyak belajar lagi,” ungkapnya.

Namun, menurut Yudhie bahwa partai baru sudah cepat belajar. “Hanya saja jangan sampai mengikuti kebobrokan dan maraknya korupsi yang terjadi di partai lama,” ungkapnya.
Yudhie menilai bahwa pemerintah dan negara semakin jauh dari cita-cita konstitusi dan cita-cita proklamasi sehingga diharapkan partai baru harus segera melakukan cara yang halal untuk menggantikan mereka yang ada di legislatif maupun eksekutif.

Sementara, senator Nurmawati Dewi Bantilan menyampaikan salah satu tantangan yang harus diselesaikan bagi partai baru, diantaranya minimnya kepercayaan masyarakat terhadap partai politik. “Maka, partai baru harus mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat melalui personil yang ada di dalamnya. Apalagi dengan potensi banyaknya anak muda yang punya gagasan, itu kelebihan yang harus dimanfaatkan,” tuturnya. (LK20/ms)

Facebook Comments

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY