Partai Politik Harus Peka terhadap Generasi Millenial

Partai Politik Harus Peka terhadap Generasi Millenial

180
0
BERBAGI
Suasana syukuran ulang tahun ke-1 rilis.id di Grand Slipi, Senin (26/2/2018).

JAKARTA – Anggota Komisi II DPR Budiman Sudjatmiko mengatakan, partai yang tidak membuka peluang bagi keberadaan anak muda di dalam tubuhnya, maka akan memasuki masa kehancuran. Hal itu disampaikan dalam Syukuran 1 Tahun Rilis.id di Grand Slipi Jakarta, Senin malam (26/2/2018).

Budiman menilai, gelombang generasi milenial tak dapat ditampik oleh partai. Indonesia yang memiliki bonus demografi harus mampu dimanfaatkan oleh partai. “Partai, tak boleh menutup diri terhadap keberadaan anak muda, perlu kesinambungan antara gagasan partai dan perspektif kalangan muda,” imbuhnya.

Dalam acara tersebut, banyak tokoh yang hadir. Diantaranya, Budiman Sudjatmiko (Anggota Komisi II DPR RI), Eddy Soeparno (Sekretaris Jenderal DPP PAN), Reni Marlinawati (Wakil Ketua Umum PPP), Sandiaga Uno (Wakil Gubernur DKI Jakarta), Siti Zuhro (Peneliti LIPI), dan beberapa tokoh nasional lainnya.

Banyak diantara tokoh politik yang berharap adanya warna baru dalam partainya dengan mengakomodir gagasan dari generasi millennial. Istilah generasi millennial diasumsikan dengan anak muda yang memiliki karakter menyukai hal yang instan, relevan terhadap pemikirannya dan cenderung susah diatur. “Banyak generasi milenial kreatif akibat melek teknologi, namun generasi milenial kerap di cap sebagai produk instan, termasuk dalam memicu kesuksesan dalam sekejap mata. Partai harus memahami dan menyikapi karakteristik generasi millennial tersebut,” ungkap Sandiaga Uno.

Sementara, Pengamat politik dari Monash Institute, Mohammad Nasih mengatakan, generasi milenial saat ini merupakan generasi yang tak berdaya. Salah satu sebabnya, budaya baca semakin kurang diminati oleh generasi sekarang. Selain itu, keengganan anak muda turun ke partai politik adalah karena tidak adanya teladan dari elit parpol. “Harusnya partai politik memberikan teladan dan pencerahan bagi generasi milenial yang tak berdaya tersebut. Namun yang terjadi, justru para elit tidak memberi perspektif ideal sehingga mereka merasa tidak cocok di parpol,” ujar Nasih.

Generasi millennial tidak dapat terelakkan, karena Indonesia mengalami bonus demografi yang didominasi oleh generasi muda. Namun, pemanfaatannya tidak harus melalui partai politik. Banyak aspek lain yang dapat mendukung kerja-kerja pemerintahan dan keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Fungsionaris DPD KNPI Kabupaten Kendal, Muhammad Shofi F. Isbach memandang bahwa kontribusi yang dapat dilakukan oleh anak muda tidak harus melalui partai politik. Melalui kreatifitas yang dimiliki, dan terbukanya akses media sudah cukup memberikan ruang untuk mengemukakan gagasannya. “Anak muda yang memiliki gagasan dan ingin berpolitik, terkadang masih minder terhadap pendahulunya di partai politik. Ruang geraknya seakan terbatas, sehingga hanya mampu mengamati dan belajar dari para seniornya,” ungkapnya.

Baginya, berpolitik di parpol itu tidak instan dan harus melalui proses pembelajaran di berbagai organisasi, misalnya di organisasi masyarakat. Melalui ormas, anak muda dapat menyalurkan gagasannya dan ikut serta membantu program yang menyejahterakan masyarakat. “Istilah berpolitik tidak selalu dikaitkan dengan partai politik. Selama pemuda itu mampu menjadi pengaruh dan membawa perubahan bagi sekitarnya, dia telah berperan politik,” imbuh kader yang juga aktif di Ormas Aliansi Nusantara itu. (Red-LK20-ms)

Facebook Comments

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY