Indonesia Siap Dominasi Pasar Batubara Tiongkok

Indonesia Siap Dominasi Pasar Batubara Tiongkok

891
0
BERBAGI
Head of Sales BPG, David Tjie (kiri), CEO Rendy Halim (tengah), dan Atase Perdagangan KBRI Beijing, Dandy S. Iswara (kanan) memaparkan kondisi bisnis dunia pertambangan di Indonesia dalam Forum Meeting antara BPG, KBRI, dan investor (red-lk/cile)

JakartaTiongkok membutuhkan pasokan energi yang besar untuk mengimbangi pesatnya pertumbuhan sektor industri mereka. Hal tersebut membuka peluang yang lebih besar bagi pelaku usaha batu bara Indonesia untuk meningkatkan volume ekspor ke Tiongkok.  Untuk tujuan itulah, Indonesia hadir di The 17th Tiongkok Coal and Mining Expo (CCME) pada 25-28 Oktober 2017 di Beijing, Tiongkok. Di perhelatan ini PT Borneo Pasifik Global (BPG) mendapat kepercayaan mewakili Indonesia untuk pertama kali di coal expo terbesar di Tiongkok tersebut.

CCME adalah pameran pertambangan batu bara terbesar di Tiongkok dengan reputasi yang diakui seluruh dunia yang diadakan setiap dua tahun sekali. Tahun ini, CCME mengambil tema, “Intelligent Manufacturing, Leading the Future” dan diikuti hampir 400 perusahaan dari 18 negara, termasuk Amerika Serikat, Rusia, dan Jerman.

“BPG berusaha agar konsumen industri, perusahaan pembangkit listrik hingga investor sektor pertambangan dan energi dari Tiongkok bisa lebih memahami regulasi dan iklim usaha sektor pertambangan Indonesia,” kata CEO BPG, Rendy Halim, yang ikut hadir di acara tersebut.

CCME menjadi ajang untuk meningkatkan hubungan baik antara Tiongkok dan Indonesia, khususnya dalam bidang perdagangan. Calon pembeli dan investor dari Tiongkok mendapatkan penjelasan terkait fluktuasi harga batu bara hingga jaminan transparansi dalam proses penambangan dan pengiriman komoditas tersebut.  Hal ini berguna untuk meningkatkan keyakinan bahwa bisnis antara Tiongkok dengan Indonesia itu sangat aman dan prospektif.  Dan juga dukungan dari kedua belah pihak, Pemerintah Indonesia dan Tiongkok, memperkuat kenyamanan dan keamanan dalam sisi berbisnis.

“Respons market amat baik. Mereka terlihat antusias untuk memahami lebih jauh perdagangan batu bara di Indonesia. Melalui pameran ini kami ingin membuat hubungan perdagangan batu bara antara Indonesia dan Tiongkok menjadi lebih baik lagi di segala aspek,” ujar Head of Sales PT BPG, David Tjie, saat ditemui di Jakarta, 6 November lalu. David juga menjadi salah satu pembicara di forum diskusi internasional CCME dengan topik “Prospek Coal Market Indonesia“. Forum ini diikuti 5 perusahaan batu bara terbesar di Tiongkok, perwakilan pemerintah Tiongkok, serta  perwakilan negara-negara lain seperti Rusia, Australia dan Eropa.

Di acara bergengsi ini, BPG menampilkan beberapa produk batu bara andalan asal Indonesia, antara lain BPG 47 (NAR44), BPG 42 (NAR38), dan BPG 38 (NAR35). Produk-produk BPG dengan tingkat kadar sulfur yang sangat rendah di bawah 1% ini cocok untuk memenuhi kebutuhan konsumen di sektor industri Tiongkok yang sangat peduli dengan kebersihan udara. Batu bara BPG dipasok dari produsen batu bara yang memiliki tambang di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Tim BPG memberi penjelasan kepada calon buyer di booth Indonesia (red-lk/cile)

BPG memulai ekspor ke Tiongkok pada 2015 dengan volume awal mencapai ratusan ribu ton per tahun. Setahun kemudian, ekspor ke Tiongkok tumbuh mencapai 180%. Dan pada akhir tahun 2017, secara kumulatif pertumbuhan ekspor ke Tiongkok akan mencapai 310%. Volume ekspor ke Tiongkok ini setara dengan 55% total volume ekspor batu bara BPG dengan pasar utamaantara lain, Tiongkok, India, Vietnam, Filipina, Thailand, Korea Selatan dan Bangladesh. Hingga kini BPG mampu melayani kebutuhan batu bara dengan berbagai jenis kualitas.

Terus Bertumbuh

Pada tahun ini ekspor batu bara dari Indonesia ke Tiongkok telah menghasilkan devisa senilai US$1,68 miliar atau meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya US$1,03 miliar. Namun posisi Indonesia masih berada di bawah Australia yang pada tahun ini nilai ekspornya telah mencapai US$6,51 miliar.

“Kualitas batu bara kita nomor satu di Tiongkok. Oleh sebab itu, mesti dimanfaatkan ajang seperti CCME itu,” kata Atase Perdagangan Kedutaan Besar RI di Beijing, Dandy Satria Iswara.

Menurut Dandy, kadar sulfur batu bara Indonesia lebih bagus dibandingkan kompetitor utama dari Australia. Tiongkok yang juga menghasilkan batu bara dengan kadar sulfur tinggi sehingga menimbulkan polusi sangat membutuhkan batu bara dari Indonesia sebagai bahan campuran dalam menggerakkan sejumlah alat pembangkitan energi listrik.

Namun untuk batu bara ringan, pada tahun lalu, Indonesia telah menjadi pengekspor nomor satu dengan mencapai 87,48%.  Rusia dan Mongolia terus menguntit posisi Indonesia, setelah Korea Utara dikenai sanksi larangan ekspor akibat uji coba senjata nuklir.

Karena itu, kehadiran BPG sebagai wakil Indonesia di CCME 2017 bisa memperkuat daya saing batu bara asal Indonesia, tidak hanya di Tiongkok namun juga untuk berekspansi lebih luas di pasar Internasional.

“Kami berharap kehadiran kami akan membuka pintu kesempatan yang lebih besar lagi untuk memasuki berbagai pasar internasional, sehingga bisa memberikan dampak lebih besar bagi perekonomian Indonesia,” kata Rendy. (Red-lk20/Cile)

Facebook Comments

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY