Cerpen: ILUSI

Cerpen: ILUSI

726
0
BERBAGI
Ilustrasi cerpen

KENDAL – Aku adalah seorang laki-laki, bertubuh tinggi tegap, wajah tampan, dan impian semua wanita. Aku setia, perhatian, dan sangat mencintai Samara. Aku akan melakukan apapun demi perempuan itu. Aku selalu ada ketika dia membutuhkanku. Selalu.

Iya, Seseorang  itu bernama Samara. Dia seorang perempuan pembawa hujan. Dia selalu membawa dingin kemana-mana. Dia pernah bilang kalau dingin itu indah. Dia perempuan aneh. Dia suka menciptakan ilusi-ilusi tak masuk akal. Seperti ini.

Pada malam yang biasa saja menurutku. Mara menemukan sebuah puisi. Puisi karya seorang lelaki, yang bercerita tentang perempuan pembawa hujan. Entah dari mana pikiran itu datang, tiba-tiba perempuan pembawa hujan yang ada dalam puisi itu adalah dia. Itu yang Mara pikirkan. Perempuan yang terlalu percaya diri. Itulah Samara.

Setiap hari perempuan itu membuka matanya dengan harapan bahwa lelaki yang ia cintai itu menyapanya. Hanya menyapa saja. Samara adalah perempuan yang sederhana, sesederhana ketika ia mencintai seseorang. Aku suka itu. Tak perlu banyak basa-basi, tak perlu banyak tatapan, atau kursus bualan. Hanya mencintai tanpa mengharap dicintai. Sudah. Itu cukup menurutnya. Namun ia tak pernah dicintai akhirnya.

Hari ini, matahari masih baru, namun tiba-tiba perempuan itu melenguh berat. Dia menepuk dadanya berulang kali, seakan degubnya tertahan sesuatu. Dia menghentikan langkahnya ketika melihat lelaki yang selama ini ia kagumi bersama dengan seorang perempuan lain. Bukan perempuan hujan ini. Seorang perempuan yang jauh lebih cantik dan anggun. Seorang perempuan yang pastinya ia tahu. Bahkan sangat tahu. Dan tentu saja, Mara tersenyum ketika pandangan mereka beradu. Ada kekecewaan disalah satu mata gadis ini yang tersembunyi dibalik senyumnya. Mara bukanlah perempuan bodoh, dia hanya perempuan sederhana, sesederhana cintanya.

Terima kasih Tuhan, sekali lagi Engkau telah memperkenankan aku melihat wajah itu.

Perempuan itu berbisik. Lagi, lagi, dan lagi. Setiap kali dia melihat lelaki itu, dia akan berbisik entah kepada siapa. Bukan juga padaku.

Malam ini Mara mengajakku pergi kesebuah kafe, lagi. Setiap malam minggu dia mengajakku kesini. Hanya sekedar menemaninya bercerita, tentang lelaki itu. Dia tetap saja bercerita, meskipun aku sudah tau kejadiannya. Berulang, ulang, dan ulang. Mungkin dia ingin memamerkannya padaku atau mungkin dia sekedar ingin mengenang degub jantungnya sendiri. Entahlah Padahal aku tak henti berkata, bahwa perasaanya hanya ilusi yang ia ciptakan sendiri.

Seperti biasa, malam ini laki-laki itu datang. Dia duduk didepan Mara setelah menggantungkan jaketnya yang basah karena hujan. Lelaki itu memesan kopi dan waffle yang sama. Senyum menjadi satu-satunya sapaan diantara mereka. Tak ada pembicaraan, hanya bunyi tetes air yang jatuh menimpa atap. Biar bagaimanapun Mara tersenyum malam ini.

Aku tak tau bagaimana mereka bisa bertemu setiap malam minggu. Mungkinkah mereka sudah membuat janji atau hanya kebetulan yang berulang-ulang. Mara tak pernah membahas hal itu.

“aku tidak ingin lagi menangkapmu dalam mataku.” Ujarnya tiba-tiba didepan lelaki itu. Masih ditempat yang sama seperti malam minggu biasanya.

 “aku tak ingin memintal kenangan denganmu, walaupun sebuah kenangan yang tak pernah ku beri nama.” Ucapnya menengadah mencari bulan yang mungkin bisa menghangatkan matanya yang sayu. Bahkan kurasa nafasnya menjadi kabut ketika dia mengatakan itu.

“kenangan yang kau sebut itu, jadikan saja dongeng. Kau pandai membuat dongeng kan.” Masih dengan nada yang sama perempuan itu berbicara. Malam ini sepertinya keluar dari malam-malam yang selama ini kujalani dengannya. Malam yang terlalu dingin. Malam yang terlalu sepi. Lelaki itu mematung. Hanya mematung saja. Aku mungkin akan berairmata mendengar kata-kata seperti itu.

Tanpa mengucapkan apapun kemudian lelaki itu pergi meninggalkannya sendiri. Perempuan itu menatap punggungnya dalam-dalam. Bukan berharap lelaki itu akan berbalik dan memilih perempuan itu dari pada kekasihnya. Bukan itu.

“dia lupa membawa jaket malam ini.”

Bisiknya lirih. Aku memandangnya lekat-lekat. Wajah yang tak pernah bosan kupandang setiap malam.

Mereka berdua berpisah. Aku senang. Diam-diam aku tertawa, bernyanyi-nyanyi sendiri dibelakang Mara. Aku tau perasaan Mara pada lelaki itu hanya ilusi saja.

“aku hanya akan mencintaimu saja.”

Tiba-tiba perempuan itu menatapku dan mengucapkan kata-kata itu. Kurasa dia sudah gila. Seperti biasa, aku hanya tersenyum saja.

Sejak saat itu, kita semakin dekat. Aku harus menemuinya setiap malam. cerita-ceritanya menjadi dongeng sebelum tidur untukku. Dia selalu bercerita tentangnya, tentang dunianya, walaupun masih juga tentang lelaki itu. Lalu dia akan tertidur sendiri. Sedang aku akan duduk setia disamping ranjangnya. Perempuan pembawa hujan ini Selalu berimajinasi sebelum dirinya terlelap. Berharap imajinasinya menjadi mimpi, karna ia merasa mimpi lebih nyata dari pada imajinasi. Dia selalu membuat sketsa cerita yang jelas, lengkap dengan alur, tokoh dan endingnya sebelum ia benar-benar tertidur. Tapi, dia selalu kecewa ketika terbangun, karna dia tak dapat mensketsakan mimpinya dalam kenyataan. Mara merasa bahwa mimpi buruk adalah ketika ia bermimpi tentang kenyataan.

Malam ini Samara memanggilku. Dia terlihat pucat.

“aku lelah sekali dengan semua ini N, seseorang yang aku cintai memalingkan wajahnya dariku, ternyata aku yang terlambat menyadari bahwa perempuan pembawa hujan yang ia sebut itu bukanlah diriku. Aku lelah mencintai seseorang yang tidak mencintaiku. Juga kau. Aku lelah mencintai mu. Kau yang bahkan tidak pernah nyata. Cukup sampai disini saja. Pergilah N. aku yakin akan ada seseorang yang mencintaiku kelak.” Ucapnya panjang lebar. Tidak ada air mata. Samara tersenyum malam ini. Meskipun aku tau dia sedang memaksa diri, aku tersenyum juga. Karna itu yang dia inginkan. Mengapa tiba-tiba dia bersikap seperti itu. Apa yang terjadi dengannya. Aku ingin bertanya seperti itu, tapi aku tak bisa. Karna Mara tak ingin aku bertanya.

Apa boleh buat, aku hanya ilusi yang tercipta dari imajinasi seorang perempuan pembawa hujan. Malam ini, aku pergi sesuai dengan keinginannya. Tapi aku selalu siap untuk datang padanya kapanpun ia membutuhkanku. Seperti rembulan, yang tetap setia menggangtung disana. Meski dia tau malam sudah jauh lebih bersinar walau tanpa kehadirannya. Selamanya dia akan menggangtung disana. Barangkali ada seseorang yang akan merindukannya, atau penyair yang butuh teman marangkai kata.

Malam ini hujan tak terlalu lebat, atau mereka sering menyebutnya gerimis. Aku sendirian sekarang. Setidaknya aku ingin terlihat normal didepan mereka. Bukan sebagai seorang pembawa hujan atau perempuan gila yang berbicara dengan ilusinya sendiri.

Senja Selena, penulis.

Facebook Comments

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY