Resensi Buku : Indonesia Poenja Tjerita

Resensi Buku : Indonesia Poenja Tjerita

1415
0
BERBAGI
Buku "Indonesia Poenja Tjerita". (red-lk)

Judul: Indonesia Poenja Tjerita

Penulis: @SejarahRI

Tebal: 226 halaman

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun terbit: 2016

Harga: Rp54.000,-

ISBN:978-602-291-238-5

Peresensi : Ali Ridho, warga Kebonagung, Kec. Ngampel, Kab. Kendal

 

Berbicara soal Indonesia, kurang afdhol rasanya bila tidak menyinggung sejarahnya. Sebagaimana diketahui, negeri kita menyimpan banyak sejarah yang jika dibahas tidak akan selesai satu atau dua jam saja. Indonesia adalah negara besar yang kaya, banyak budaya, bahasa, pulau-pulau yang terbentang dan masih banyak lagi “kelebihan” yang dimiliki. Tentu, hal itu menjadikan Indonesia sebagai negara yang berbeda.

Keindahan Indonesia akan lebih terasa bila kita tahu sejarahnya. Sayang, di zaman yang serbamodern ini sebagian orang malas membaca, lebih-lebih membaca sejarah. Seakan sejarah hanyalah kepingan-kepingan peristiwa masa lampau yang tak penting dalam kehidupan. Padahal, dari sejarah kita dapat mengambil pelajaran untuk diterapkan. Indonesia memiliki banyak pahlawan yang tangguh dan kuat, seperti proklamator kita, Bung Karno. Dengan membaca sejarah, kita dapat meniru gebrakannya. Dan masih banyak lagi tokoh sejarah bangsa yang mampu memberikan “semangat baru” di dalam buku sejarah Indonesia.

Salah satu faktor membaca buku sejarah sering ditinggalkan, yaitu disebabkan bahasa yang ditampilkan condong kaku dan membosankan. Namun, penulis merasa ada yang berbeda ketika ada sebuah buku karya @SejarahRI, dia membahas sejarah Indonesia dengan gaya penulisan  yang enak dibaca dan mudah dicerna oleh akal. Buku ini seakan menepis anggapan orang bahwa membaca sejarah itu amat menjenuhkan.

Indonesia Poenja Tjerita merupakan buku sejarah Indonesia yang ramping dan simpel. Buku ini memuat banyak sejarah yang mungkin tak diungkap dalam buku sejarah Indonesia kebanyakan. Jujur, materi-materi yang terhimpun di dalamnya nyaris tak terpikirkan oleh saya sehingga sangat unik dan bikin penasaran.

Misalnya, sosok wanita misterius di pucuk Monas; mata uang tertua di Nusantara; kantor telepon pertama, kini jadi kandang kerbau dan masih banyak lagi cerita menarik lainnya. Bagi saya, isi yang terkandung di dalam buku ini memberi kesan “baru”. Terlebih saat membaca tentang sosok pahlawan yang pertama kali memplokamirkan kemerdekaan bagi rakyat Gorontalo pada 23 Januari 1942, sebelum Indonesia yang merdeka pada 17 Agustus 1945.

Siapa sebenarnya Nani Wartabone? Tidak banyak orang Indonesia yang tahu tentangnya. Dalam deretan pahlawan nasional, namanya hampir tidak terngiang nyaring. Namun, bagi rakyat Gorontalo, sosok Nani Wartabone sangat dikagumi. Ia pahlawan,”. (hal:116-117)

Artinya, buku ini mencoba mengupas serpihan-serpihan sejarah yang selama ini belum diketahui orang banyak. Buku ini menawarkan sisi lain dari sejarah Indonesia seolah kita seperti didongengi. Dijamin tak membuat orang pusing apalagi ngantuk saat membacanya. Pembaca akan selalu melek hingga halaman terakhir. Sempalan-sempalan cerita yang ada di dalamnya niscaya akan membuat kita manggut-manggut sambil berkata, “O, ternyata seperti itu ya. Saya baru tahu.”

Selain tulisan, yang membuat saya sreg dari buku ini adalah covernya. Perpaduan antara warna hijau, kuning dan putih, dan diselingi dengan sebuah gambar sosok perempuan yang tengah memintal bendera merah putih, ditambah lagi dengan ilustrasinya yang begitu ciamik di tiap-tiap halaman sehingga pembaca seolah berada pada situasi yang sedang diceritakan. Semua memberi kesan Indonesia banget. Bila ingin kenal sejarah Indonesia yang unik dan menarik, Indonesia Poenja Tjerita adalah jawabannya. (red-LK20/ar)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY