Munculkan Produksi Daerah Sebagai Solusi Minimnya Produksi Nasional

Munculkan Produksi Daerah Sebagai Solusi Minimnya Produksi Nasional

662
0
BERBAGI
Muhammad Shofi, Kabid Pengembangan SDM Kalam Institute. (red-lk)

KENDAL – Tayangan televisi saat ini mengalami fenomena tersendiri. Mulai dari banyaknya tayangan asing yang membanjiri penonton Indonesia. Kini, masyarakat Indonesia mulai disuguhkan program lama yang diputar kembali ke layar televisi.

Putri Duyung, Si Manis Jembatan Ancol, Tuyul dan Mbak Yul , Tuyul Millenium,  dan Putri Salju merupakan program TV yang saat ini kerap muncul. Dari fenomena semacam ini, tayangan televisi dinilai minim kreasi karena berkurangnya produksi yang dihasilkan. Hal tersebut disampaikan oleh Muhammad Shofi, Kabid Pengembangan SDM Kalam Institute.

“Munculnya program lama yang disiarkan kembali, menunjukkan bahwa kondisi penyiaran saat ini mengalami penurunan program tayangan yang kreatif dan edukatif. Diantara penyebabnya adalah kurangnya daya kreatif,” ungkapnya.

Selain itu, pemuda lulusan IAIN Walisongo itu menambahkan, ada keuntungan lain dari munculnya program TV lama tersebut. Dari segi finansial, lembaga penyiaran tak perlu mengeluarkan biaya produksi yang tinggi untuk menayangkan program TV karena hanya membeli program lama.

“Di sisi lain, dampak negatifnya adalah jumlah produksi program TV menurun karena hanya membeli produk tanpa memproduksi. Nantinya akan semakin banyak lagi program TV lama yang disiarkan dan berpotensi menurunkan daya kreatifitas dari pembuat program,” imbuhnya.

Solusi atas masalah tersebut, bagi dia, adalah perlu lebih memunculkan produksi-produksi daerah yang mengandung konten budaya lokal sebagai khasanah baru untuk mengisi siaran TV secara nasional.

“Tentu melalui bungkus dan kemasan yang menghibur dan tidak monoton. Disamping itu, terpilihnya komisioner KPI Pusat menjadi semangat baru bagi terwujudnya penyiaran yang mendidik,” paparnya. (red-LK20/isb)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY