Memaknai Perbedaan

Memaknai Perbedaan

782
0
BERBAGI

Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan berbeda-beda. Kita bisa lihat dan renungkan, berbagai macam segala yang ada di bumi ini semuanya berbeda. Pepohonan, tumbuhan, gunung, manusia dan segala ciptaan Tuhan, memiliki karakteristik yang tidak sama. Semua memiliki kekurangan dan kelebihan.

Satu contoh misalnya, kita miliki dan sering menggunakannya yaitu tangan dan jemari kita. Setiap saat, dalam beraktifitas kita selalu menggunakan tangan. Tapi, pernahkah kita merenungkan lebih dalam tentang keistimewaan dan pelajaran yang dapat diambil dari penciptaan tangan dan jari?

Pada tulisan ini, saya akan berusaha sedikit tentang merenung, agar kita menjadi orang yang sesuai dengan bahasa  Al-Quran yaitu Tadabbur (merenung) dan dapat mengambil pelajaran.

Merenung merupakan hal yang positif, karena dengannya manusia dapat menyeimbangkan emosionalnya. Terkadang jika emosional tidak stabil, kita dapat terjerumus pada stres atau dalam bahasa anak muda, galau.

Dari merenung, manusia dapat merubah sepak terjang kehidupannya bahkan setara dengan ibadah, seperti sholat, berzikir, dan ibadah-ibadah yang lain. Seperti yang di katakan Nabi SAW :

“Merenung sesaat lebih mulia daripada ibadah selama dua tahun. Bahkan riwayat lain mengatakan sampai seribu tahun lamanya,” (Ibnu al-Jauzi al-Maudlu’at Juz. 3 hlm. 144).

Ini bukti keutamaan merenung, karena merupakan perilaku yang sangat penting yang perlu dilakukan untuk lebih mengetahui lebih dalam mengenai ciptaan Tuhan.

Kita ambil contoh misalnya, penciptaan “jari-jemari”. Bukankah jari-jemari yang kita miliki berbeda bentuk, ukuran dan panjang? Tentu jawabannya “Iya”. Jika kita lihat dari perbedaan ukuran, panjang dan bentuk dari masing-masing memiliki tugas yang berbeda.

Mereka selalu kompak dan tidak merasa dibedakan, bahkan karena perbedaanya itu, jari-jemari tersebut dapat menyelesaikan masalah dengan tuntas. Bayangkan, jika kita tidak memiliki jari-jemari, atau ukuran panjang dan besarnya sama, bagaimana kita akan beraktifitas?

Inilah salah satu karunia Allah SWT, dengan merenung kita akan banyak mengambil pelajaran.

Penulis ingin menggarisbawahi bahwa perbedaan yang terjadi antara kita merupakan hal yang positif. Bahkan, melalui perbedaan tersebut manusia dapat menyelesaikan masalah kehidupanya dan dapat membangun kekompakan.

Kita bisa lihat miliaran manusia, dan masing-masing dari mereka berbeda-beda, dari sisi warna kulit, ukuran badan, bentuk, kekuatan dan perbedaan yang lain. Bahkan, dari perbedanya itu dapat saling menolong dan membantu. Kuat menolong yang lemah, Pandai membantu yang belum pintar, kaya berbagi dengan yang miskin, dan sebaliknya.

Kita tidak boleh berfikir, bahwa dengan kekuatan dan kelebihan yang dimiliki dapat mengalahkan yang lain, menghardik atau menyepelekan karena belum tentu yang memiliki kelebihan dapat melakukan semua hal. Pasti membutuhkan bantuan dari yang lain.

Seperti itulah hakikat perbedaan. Inilah yang menjadi misi bangsa Indonesia yang kita cinta. Landasan Bhinneka Tunggal Ika (berbeda -beda budaya, tradisi, bahasa dan warna, akan tetapi tetap satu). Begitulah yang sering kita gaungkan sebagai pemersatu bangsa.

Namun, sangat disayangkan jika pada zaman ini, banyak orang yang bertengkar, berselisih paham hanya karena perbedaan pendapat, pemikiran, ras, suku, budaya maupun golongan. Perbedaan merupakan sarana bagi kita untuk saling mengenal. Bukankah Allah SWT berfirman di Q.S Al-Hujurat : 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah yang paling bertaqwa,”.

Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan berbeda untuk saling mengenal, dapat saling membantu, menghormati, memberi kasih sayang. Dalam ayat ini, Allah tidak melihat kekuatan, kekayaan, kelebihan mereka sebagai kemuliaan, melainkan kedudukanya di hadapan Allah dilihat yang paling bertaqwa.

Ada sebuah cerita, ketika penduduk Mekkah mengungsi ke Madinah. Nabi mempersaudarakan kedua penduduk itu, agar kedua penduduk itu saling menghormati, agar masing-masing dari mereka menghilangkan sikap fanatiknya terhadap satu kaum, sehingga Islam terbangun dengan baik dan kuat.

Nabi tidak melihat seseorang dari warna kulit atau golongannya. Sempat ada sahabat Bilai yang warna kulitnya hitam atau Salman Alfarisi berasal dari bangsa Persi, mereka direndahkan karena tidak sama dengan bangsa lainnya. Kemudian, Nabi menyatakan bahwa “Sesungguhnya Allah SWT itu tidak melihat dari rupa dan harta kalian, akan tetapi, Allah SWT melihat dari hati dan amal kalian,” (Ahmad dalam Musnad-nya II/ 539).

Sudah seyogyanya kita berfikir dan merenung, bahwa kita tetap harus menghormati dan memuliakan manusia yang berbeda dari segi golongan, pandangan, bahkan keyakinannya. Jangan pernah merendahkan, meremehkan, mengkafirkan, bahkan sampai melukai.

Jika kita membaca basmalah setiap akan melakukan aktifitas, maka sifat Allah SWT yang perlu diresapi adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Inilah yang menjadi perwujudan sikap kita untuk sesama. Marilah kita renungkan sifat-sifat Tuhan agar kita dapat mengambil pelajaran dan bisa mengaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis ingin mengutip perkataan yang indah dan memiliki makna mendalam. Ali bin Abi Tholib mengatakan, “Begitu banyaknya pelajaran, namun sangat disayangkan, hanya segelintir orang yang mengambil dari pelajaran tersebut,” (Al Hikmah : 297). Semoga kita dapat mengambil hikmah dari ciptaan Tuhan yang ada.

Penulis : Kumail Ja’far (Pendiri dan pengasuh Majlis Syafaat, Jakarta)

Facebook Comments

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY