Angkat Potensi yang Dilupakan, KAGAMA Gelar FGD Jambu Getas Merah Kendal

Angkat Potensi yang Dilupakan, KAGAMA Gelar FGD Jambu Getas Merah Kendal

909
0
BERBAGI
Kagama Kendal bekerja sama dengan Kecamatan Patean dan Pattiro, mengadakan focus group discusion jambu getas merah di Aula Kecamatan Patean pada Minggu 29 Mei 2016 (red-LK/Hsn)

KENDAL РSungguh ironis nasib petani jambu getas merah di Kendal, setiap mendekati panen raya petani jambu merah merasa was-was dengan harga jambu yang sangat murah sekali hanya 500 rupiah per kilogram. Apalagi banyak jambu yang terbuang sia-sia karena tidak laku di pasaran. Padahal produksi jambu di kawedanan selokaton per minggu pada saat musim biasa mencapai 400ton per pekan dan pada musim panen raya mencapai 800ton per pekan. Potensi jambu getas yang dulu sempat menjadi produk primadona andalan di Kendal kini seakan menjadi kenangan. Karena hal ini Kagama Kendal bekerja sama dengan Kecamatan Patean dan Pattiro, mengadakan focus group discusion  jambu getas merah di Aula Kecamatan Patean pada Minggu 29 Mei 2016.

Acara yang betujuan mengangkat potensi jambu getas merah dan meningkatkan taraf hidup petani, pedagang serta pengolah jambu getas merah. Dihadiri oleh beberapa stakeholder , pelaku usaha dan petani jambu getas merah di selokaton. Diantaranya yang ikut adalah para camat se kawedanan selokaton,  kepala dinas pertanian kendal, ketua koperasi andhini salatiga, Hafidz Nasrullah pengusaha muda kendal dan petani pedagang pengolah jambu getas merah se-selokaton.
FGD yang bertema “yang dulu diandalkan, sekarang dibiarkan, mau apa yang dilakukan.” Dipilih karena melihat pemerintah yang setengah hati membuat program, “program dibuat tidak berkelanjutan roadmapnya tidak jelas yang akhirnya masyarakat (petani) yang menjadi korban program coba-coba pemerintah” ujar Kartiko Nursapto selaku Ketua Kagama Kendal.

Dari hasil FGD dapat disimpulkan rencana tindak lanjut diantaranya,

  1. Para petani, pedagang dan pengolah harus ada bentuk kerjasama jelas dan rutin bertemu dalam wadah koperasi
  2. Harus ada upaya branding jambu di Selokton, misal ada tugu jambu, pernak pernik yg ada unsur jambu, membiasakan meminum dan mengkonsumsi jambu di berbagai tempat, buka bersama gratis minum jus jambu infak dari petani
  3. Adanya pemetaan tugas antara petani, pedagang dan pengolah dalam bentuk mata rantai nilai secara bertahap.

(red-LK20/sankar)

 

 

Facebook Comments

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY